Gimana rasanya ya duduk di ruang pengakuan dosa selama 17 jam sehari? Ternyata di sebuah gereja di Ars, sebuah desa kecil di Perancis pada tahun1825 pernah ramai karena ini. Banyak orang berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru Perancis, bahkan dari Inggris dan Amerika memenuhi jalanan Ars hanya untuk mengaku dosa! Pusat keramaian itu adalah sosok sederhana dan bersahaja yang kelak menjadi salah satu tokoh besar gereja katolik : Pastor Yohanes Vianney.
Lahir di Dardilly pada 8 Mei 1786, Jean (Yohanes) memiliki latar belakang dari keluarga petani yang bersahaja. Jean kecil terinspirasi oleh kebaikan keluarganya sendiri terhadap kaum miskin. Keluarga sederhana itu senantiasa membuka pintunya bagi sesama yang membutuhkan.
Keinginannya menjadi imam semakin besar dikala Revolusi Prancis menutup gereja-gereja. Berbekal kerinduan akan Kristus, ia diam diam mengajar kitab suci kepada anak-anak di desanya.
Setelah revolusi berakhir, gereja gereja mulai dibuka kembali. Ada seorang pastor paroki di Ecully yang ditugaskan untuk membuka seminari calon imam. Setelah mendapat restu ayahnya, Jean langsung menghadap pastor tersebut, Pastor Bailey. Mengetahui tentang Jean, pastor tersebut langusng menerimanya di seminari.
Meskipun berhasil masuk seminari, bukan berarti segalanya langsung menjadi mudah. Jean merasa kesulitan untuk mengikuti pelajaran, ia kerap tertinggal dibanding teman-teman yang sebetulnya lebih muda darinya. Ia sering mengalami kegagalan terutama dalam bahasa Latin. Namun kegagalannya ini tidak membuatnya menyerah, justru membuat ia semakin berserah. Dengan bantuan doa Perawan Maria dan St. Francis Regis Vivarais, Jean berhasil melewati tantangan dalam studinya.
Meskipun hidupnya saleh, kemampuan akademisnya justru yang menyebabkan keraguan bagi para pemimpin seminari. Namun akhirnya pada tahun 1815 Jean Vianney resmi ditahbiskan menjadi imam pada usia 29 tahun.
Setelah ditahbiskan, ia ditugaskan di sebuah gereja di Ars. Kehidupan rohani yang kering di Ars tidak membuat Pastor Vianney putus asa. Dengan ketekunannya, ia mengunjungi umat satu persatu. Perlahan melebur dalam kehidupan mereka. Para umat mulai menceritakan kisah mereka, ingin mendengarkan nasihat dari Pastor Vianney.
Semakin lama semakin banyak umat berdatangan, membuat Ars menjadi pusat peziarahan. Banyak orang berdatangan untuk mendengarkan khotbah Pastor Vianney dan mengaku dosa.
Kepeduliannya pada kaum papa tak hanya berhenti pada memberikan segala baju dan miliknya kepada yang membutuhkan, ia memiliki sebuah cita-cita yang akhirnya bisa terwujud dengan membeli sebuah rumah yang dikenal sebagai House of Providence yang digunakannya untuk menampung orang miskin dan yatim piatu. Di tempat inilah terjadi sebuah berkat yang amat besar. Pada suatu hari, persediaan tepung telah sama sekali habis. Dalam kesulitan, Pastor Vianney meminta bantuan doa St. Francis Regis. Ia membawa relikui santo itu dan menyelimutinya dengan sisa remahan tepung. Dengan hati yang berat, keesokan harinya ia kembali lagi ke tempat persediaan tepung. Tanpa disangka, tempat itu sudah terisi oleh tepung lagi! Tetapi bukannya menyambut dengan gembira, Pastor Vianney justru malu karena sempat berpikir untuk melepaskan orang-orang di rumah itu dan karena tidak percaya pada penyelenggaraan Tuhan.
Namun, banyak juga yang mencelanya, fitnah, ancaman, bahkan kekerasan. Tidak hanya sampai disitu, ia pun sering mendapat ganggguan dari roh jahat.
Meski harus menghadapi gangguan begitu hebatnya, ia tetap setia pada pengabdiannya. Ia menghabiskan harinya dengan mendengarkan pengakuan dosa sambil bermati raga. Ia melakukannya dengan kasih dan sepenuh hati. Sering saat sedang melayani umat, ia keluar dari kamar pengakuan dan menghampiri seseorang yang baru datang mengantri untuk mengaku dosa. Pastor Vianney telah mengetahui kesulitannya dan mendahului untuk menghampirinya.
Ia menerima segala mukjizat itu sebagai sarana supaya lebih banyak terjadi pertobatan dan jiwa yang diselamatkan.
Setelah sekitar empat dekade lebih mengabdi menjadi pastor, ia jatuh sakit. Ia pun menerima sakramen perminyakan dan Viaticum kudus. Pada saat didoakan doa bagi orang yang menghadapi ajal untuknya, Pastor Vianney akhirnya meninggal pada 4 Agustus 1859.
Bergelar sebagai pelindung para imam, santo yohanes vianney dirayakan setiap tanggal 4 agustus.
Sumber : https://katolisitas.org/kisah-st-yohanes-maria-vianney/
