Memasuki bulan Maria, tim kami melakukan perjalanan ke arah tenggara, tepatnya ke Wonogiri, menyambagi sebuah gua maria yang telah lama berdiri dan dikenal oleh umat katolik secara luas.
Perjalanan panjang dari Solo menghantarkan kami pada Gua Maria Sendang Ratu Kenya sekitar pukul 11.00 siang. Matahari yang sedang meninggi tidak menghalangi niat kami untuk berziarah di gua maria legendaris ini.
Sesampainya di daerah gua maria, kami mengikuti sebuah tanda yang dipasang diujung jalan, kami memasuki sebuah jalan kecil agak naik turun dengan gapura di kiri kanannya. Dari muka jalan sampai ke gua maria tidaklah jauh. Mudah mengenali bahwa sebentar lagi kami akan sampai dengan mulai terlihatnya perhentian jalan salib versi panjang di sepanjang jalan menuju gua. Tidak lama, sudah terlihat gua maria yang kami tuju.
Di depan gua maria sudah disediakan tempat parkir teduh yang cukup untuk beberapa mobil. Segera kami parkir dan beristirahat di kursi-kursi dekat situ. Kami duduk sambil memperhatikan gua maria di depan kami. Dari tempat kami yang paling menonjol adalah gua maria itu sendiri, batu batu yang disusun sebagai tempat patung Bunda Maria besar dan juga sebuah kapel di seberang.
Akses masuk ke gua maria ada dua, tangga dan jalanan halus yang sedikit menanjak. Setelah menaiki beberapa anak tangga, kami langsung disambut oleh patung Bunda Maria yang bertakhta anggun di dalam cerukan batu dengan letak yang cukup tinggi, menambah kesan agung. Di pelataran doa, ada juga beberapa keran berjajar yang bisa digunakan peziarah untuk mengambil air sendang. Selain patung Bunda Maria besar, ada juga patung Maria Lordes yang letaknya lebih dibawah, agak tersembunyi diantara ceruk bebatuan. Pada patung berwarna putih polos itu banyak Rosario dikalungkan dileher Bunda. Pada ujung pelataran ada juga tempat duduk memanjang yang terbuat dari batu disertai penutupnya sehingga bisa menjadi tempat untuk berteduh dari panas dan hujan.
Menaiki anak tangga, ada pendopo dan salib millennium yang bisa digunakan sebagai tempat berkumpul. Disediakan juga beberapa tikar supaya duduk menjadi lebih nyaman. Kami melaksanakan doa Rosario bersama di pendopo ini, menikmati hembusan angin yang tipis-tipis menerpa kulit, juga suara tonggeret yang nyaring di telinga.
Peziarahan singkat kami dilanjutkan dengan melihat-lihat kapel yang terletak paling tinggi di gua maria ini. Sebelum menaiki tangga, kami disambut dengan patung Maria dan Yusuf berwarna perunggu di kanan kiri tangga.
Cuaca yang terik tidak mengganggu peziarahan kami sama sekali, karena banyak pohon pohon rindang yang menaungi gua maria, sehingga ada banyak tempat untuk berteduh. Dan meskipun terasa kering, ada air sendang yang tersedia dan bisa dinikmati kapan saja. Gua Maria Sendang Ratu Kenya juga dilengkapi dengan altar sehingga bisa menyelenggarakan misa secara rutin. Semua fasilitas doa terawat baik sehingga berdoa menjadi nyaman, tetapi selama kami di lokasi, kami tidak menemukan patung Pieta. Mungkin patung tersebut sedang dalam peremajaan karena kami melihat sebuah ceruk batu kosong yang kabarnya sebagai tempat patung Pieta. Selain fasilitas berdoa, gua maria juga memiliki fasilitas lain seperti kamar mandi yang bersih meskipun jumlahnya baru sedikit. Secara keseluruhan, sangat menyenangkan mengunjungi Gua Maria Sendang Ratu Kenya. Aksesnya pun juga cenderung mudah. Namun jika teman-teman berkunjung menggunakan bus besar, teman-teman perlu berjalan atau menyewa ojek untuk sampai ke gua maria karena lokasinya yang harus masuk ke jalan kecil.
Teman-teman yang ingin berkunjung, bisa mengakses lokasi Gua Maria Sendang Ratu Kenya melalui maps:


